GLOBALISME HMI

Refleksi Milad ke-62 HMI (05 Februari 1947- 05 Februauri 2009)

Oleh: M. Asrul Pattimahu

Tidak terasa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sejak awal dikenal sebagai organisasi kemahasiswaan yang independen, yang hadir didasarkan semengat syiar Islam dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan Republik Indonesia, telah berusia 62 tahun. Usia ini tentu merupakan sebuah usia yang cukup matang, di mana HMI telah mengarungi berbagai pengalaman pasang-surutnya sejarah, berikut kontribusinya bagi umat dan bangsa. Dalam perjalanan panjang tersebut, HMI juga tentunya mengalami berbagai dinamika pasang-surutnya secara internal. Nyatanya, HMI masih eksis yang menandakan telah melewati berbagai seleksi yang secara sadar atau tidak justru menguatkan kematangan HMI.

Dengan sedikit menatap masa lalu peradaban Islam – meminjam teori Ibn Khaldun – bahwa setiap empire (kerjaan) telah pasti melewati kondisi dinama adanya kejayaan, kemudian dalam perkembangannya mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh. Inilah yang terjadi dengan masa lalu paradaban Islam yang secara bangga sampai hari ini masih merupakan ungkapan-ungkapan penuh optimis dikalangan intelektual dan masyarakat Muslim lainnya.

Setidaknya peradaban masa lalu Islam merupakan realitas historis yang pernah benar-benar menjadi sebuah kekuatan “adidaya” dunia. Dalam berbagai literatur sejarah, dipastikan bahwa kemajuan peradaban Islam selain terjadi karena kuatnya gairah intelektualitas para pemikir Muslim saat itu dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, juga sikap keterbukaan yang membuat kaum Muslim selama sekian abad menyerap segala macam manipestasi kultural dan wawasan keilmuan yang datang dari peradaban-peradaban lain, sehingga mampu mengangkat peradaban Islam ketingkat sangat tinggi hingga menjadi – meminjam sitilah Arnold Toynbee –  oikumene (peradilan dunia) Islam.

Para pemikir (filofosof) muslim klasik seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan pemikir sezamannya, sampai al-Ghazali, dan Ibn Rusyd, adalah para “generalis ekstrim”, karena mereka berhasil tidak saja menjadi kreator bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tapi juga melahirkan ilmu-ilmu seperti kedokteran, ilmu perbintangan dan berbagai cabang ilmu lainnya.

Rasanya tidak terlalu keliru kalau dikatakan bahwa HMI adalah pelanjut para pemikir Muslim klasik tersebut. Ini bukan sekedar ungkapan metaforis, karena hadirnya HMI memang didasari oleh semangat syiar Islam sekaligus sebagai kekuatan yang hadir, bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Melihat lebih jauh komparasi HMI dengan peradaban Islam klasik, tentunya masing-masing telah berada dalam realitas sosial-kultural yang berbeda. Kalau dizaman dinasti Abbasiyah, nasionalisme Arab menjadi nasionalisme Islam, maka atas dasar realitas sosial-kultural tersebut HMI lahir dan menempatkan dirinya sebagai pembela nilai-nilai kebangsaan (ke-Indonesia-an) yang dibalut oleh semangat universalitas Islam. Sejak awal HMI telah menegaskan komitmennya terhadap Keislaman dan Keindonesiaan atau keumatan dan kebangsaan, sehingga setiap kader HMI adalah kader umat dan kader bangsa.

Komitmen keumatan ini mestinya berdiri diatas kesadaran penuh bahwa Keislaman tidak akan tersegmentasi dalam batas-batas kultural, tidak tersegregasi dalam budaya primordialisme, tak terhalangi oleh batas-batas geografis dan geopolitik sekalipun, sehingga semangatnya menjadi semangat “golabisme HMI”.

Bahwa adanya semangat kebangsaan tersebut tidak mesti secara eksoteris menghilangkan kepekaan HMI terhadap elemen masyarakat Muslim pada belahan dunia lain yang telah berada jauh diluar jalur persinggungan kebangsaan. Dalam masalah ini, Cak Nur – sapaan akrab Nurcholish Madjid – menulis bahwa, ”selain keindonesiaan dan kemahasiswaan, kualifikasi HMI adalah keislaman, maka selain harus tampil sebagai pendukung nilai-nilai kebangsaan dan kemahasiswaan, HMI juga harus tampil sebagai pendukung nilai-nilai keislaman, sekalipun dukungan terhadap nilai-nilia keislaman itu tetap dalam format yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan keindonseiaan, yang tidak lain demi efektifitas dan fugsionalitas keislamannya itu sendiri”.

Masih menurut Cak Nur, bahwa “karena keindonseiaannya itu, HMI tampil dalam format dan citra yang sedikit banyak berbeda dari penampilan Islam dalam kawasan lingkungan budaya besar Arab, juga berbeda dari yang ada dalam lingkungan budaya besar Persia. Perbedaan-perbedaan itu merupakan fungsi dari adaptasi kreatif yang melahirkan efektifitas . HMI berkiprah dalam lingkungan Asia Tenggara dengan lingkungan budaya besar Melayu, dimana Indoensia termasuk didalamnya. Khazanah budaya Islam mengenal adanya gaya keislaman dengan warna budaya Arab yang pekat dan gaya keislaman dengan budaya Persia yang jelas. Kedua gaya itu secara ilmiah-keagamaan diakui oleh dunia, termasuk dunia Islam sendiri. Gaya ketiga yang memperoleh pengakuan serupa adalah, gaya keislaman dengan warna budaya besar Melayu di Asia Tenggara ini. Termasuk Islam di Indoensia”.

Dari perspektif dan kesadaran inilah, sangat absah HMI secara terus-menerus akan selalu menjadi pendukung nilai-nilai kebangsaan dengan spirit universalitas Islam itu sendiri yakni sebagai rahmatan li ‘l-‘alamin. Selain itu, watak keuniversalan Islam yang meniscayakan adanya pemahaman selalu baru, Islam yang universal  – dalam arti cocok untuk segala ruang dan waktu (salih li kuli zaman wa makan) – menuntut aktualisasi nilai-nilai Islam dalam konteks dinamika kebudayaan. Hakikat Islam kerahmatan dan kesemestaan (rahmatan li ‘l-‘alamin) berhubungan secara simbiotik dengan semangat zaman, yaitu kecondongan kepada kebaruan dan kemajuan. Pencapaian cita-cita kerahmatan dan kesemestaan sangat tergantung pada penemuan-penemuan baru akan metode dan teknik untuk mendorong kehidupan yang lebih baik, lebih maju. Dengan demikian, keuniversalan Islam mengandung muatan kemodrenan. Islam menjadi universal justru karena mampu menampilkan ide dan lembaga modern serta menawarkan etika modernisasi.

Setidaknya inilah yang menjadikan HMI selalu relefan untuk mendukung nilai-nilai kebangsaan, karena ikatan kebudayaan tersebut melahirkan sebuah penghayatan khas keislaman “ala indonseia” yang justru semakin menampakan bentuk kreatifitas HMI dengan keislamannya yang berjiwa global, dalam artian efektif dan fungsional dalam konteks kebangsaan dan relefan dalam perspektif “golobal-Universal”. Dan inilah bagian dari dasar semangat syiar Islam. Komitmen tersebut masih melekat erat pada HMI: bahwa antara keumatan dan kebangsaan tidak dapat dipisahkan, dan para kader HMI, hingga kini, telah menunjukkan komitmennya tersebut.

Dalam konteks inilah, sejarah telah memberikan bukti bahwa dalam perjalanan panjangnya, HMI – lewat pemimpin-pemimpinnya – telah mampu menampilkan diri sebagai pemimpin yang memiliki visi yang realistik, orisinal dan aplikatif yang modern. Perpaduan nilai dasar Islam, keindonesiaan, dan kemodrenan (digabung menjadi semacam nilai global), telah dinampakkan akan fungsinya untuk memanusiakan manusia Indonesia. Dari sinilah orisinalitas visi HMI terbangun secara aplikatif untuk bangsa, Negara, dan agama.

Wa-‘l Lâh a‛lam bi al-shawâb

Selamat Milad (ulang tahun) HMI ke-62