MENELUSURI WAJAH PLURALISME

M. Asrul Pattimahu

Meskipun pluralisme dengan kata isme-nya oleh kebanyakan orang selalu diidentikan bahkan disamakan dengan layaknya sebuah paham ideology, namun saya tidak bermaksud melihat wacana ini dalam perspektif ideologis yang pada akhirnya akan melahirkan deskrpsi yang teologis-dogmatis dan sangat kaku Pada tulisan ini. Selain secara subjektif saya tidak ingin menyamakan pluralisme dengan ideology besar seperti kapitalisme sekuler dan sosialisme komunis yang keduanya saling berbantah. Saya juga tidak bermaksud menjadikannya sebagai ideology alternatif seperti usaha para teolog dan politikus dunia dalam merevisi ideology sosialisme komunis. Saya hanya bermaksud melihat pluralisme sebagai subuah diskursus “temporal” yang sedikit memberikan warna dalam wacana-wacana keagamaan akhir-akhir ini.

Wacana Pluralisme telah menjadi sebuah diskursus trans-religius yang tidak sedikit melahirkan kontraversi pada kalangan agamawan dan ideolog-ideolog dunia. Bagi saya, pro-kontra terhadap wacana (pluralisme) ini harus disambut positif  dalam memperkaya khazana intelektual tentang masalah-masalah keagamaan temporal, sehingga wajah Islam dalam meresponi terminology hasil-hasil modernisme menjadi responsive. Khususnya di kalangan intelektual muslim pendekatan rasionalime, empirisme, bahkan skriptualisme teks kitab suci dijadikan sebagai sumber untuk mendudukan wacana ini pada proposinya, sehingga bagi kalangan awaman menjadi wacana yang jauh melambung dari tingkat kesadaran keagamaan kita. Apalagi cara berfikir masyarakat Islam awam masih cenderung sangat eksoteris yang hanya melihat agama pada batas-batas luarnya (haram-halal) saja.

Secara doktrinal dalam Islam, Tuhan menjadikan alam dalam format pluralitas. Kitab suci Al-Qur’an menjelaskan pula fenomena manusia yang dinamis, memastikan adanya pluralitas suku, agama, budaya, dan adat istiadat (QS. Al-Hujuraat / 49:13) . Hal ini sudah ada sejak berabad-abad Sebelum Masehi sampai waktu yang tidak di ketahui sesuai kehendak Tuhan, dilihat dari fenomena alam dan fenomena manusia memberi pelajaran pluralitas bagi setiap orang. Kemudian Allah juga menjadikan umat manusia tidak dalam satu suku, agama, budaya dan adat istiadat agar kita dapat berlomba-lomba dalam kebajikan dan Allah akan menguji kita tentang apa yang telah Allah berikan kepada kita.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, pluralitas (suku, agama, budaya dan adat istiadat) merupakan pilar-pilar yang di pakai pendiri negara (fouding fathers) untuk membangun dan menata Negara besar ini yang terungkap dalam semboyang “Bhineka Tunggal Ika”. Menurut Haeder Nashir, pluralitas memang menjadi khazana yang baik, tetapi akibat dinamika masyarakat yang terus berubah seirama dengan tuntutan modernitas dan demokrasi, maka pluralitas menyimpan potensi konflik, di sebabkan berbagai faktor kondisi sosial dan struktural sehingga pluralitas menjadi sesuatu yang dinamis, tidak statis bahkan problematis.

Menurut Cak Nur, pluralisme tidak dapat di pahami dengan hanya mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru menggambarkan kesan fragmentasi.  Pluralisme juga tidak boleh dipahami sebagai sekedar “kebaikan negatif” hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatismeTetapi, pluralisme, menurut Cak Nur, harus dipahami sebagai “pertalian sejati  kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”. Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia.

Dalam kehidupan modern, masalah pluralisme harus dilihat sebagai fenomena  kemanusiaan yang perlu mendapatkan suport dan disikapi secara arif. Karena pluralisme pada dasarnya merupakan realitas sosial empirik yang tidak dapat ditolak, pluralisme adalah bagian dari Sunnatulah , yang harus diterima karena merupakan kehendak Tuhan.

Mukti Ali menggambarkan adanya lima upaya yang ditempuh oleh berbagai kalangan dalam memecahkan fenomena pluralis. Pertama, Sinkretisme yang mengatakan bahwa pada hakekatnya semua agama sama. Kedua, Reconception, yaitu peninjauan agama sendiri dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Ketiga, Sintetik, yaitu penciptaan suatu agama baru yang elemen-elemenya diambil dari pelbagai agama. Keempat, Penggantian, yaitu pengakuan pemeluk agama bahwa agamanya sendiri yang paling benar. Kelima, Setuju dalam perbedaan, yaitu pemeluk agama yang menerima prinsip ini percaya bahwa agama yang ia peluk adalah agama yang paling benar dan yang paling baik, tetapi mempersilahkan kepada orang lain untuk mempercayai bahwa agama yang ia peluk adalah yang paling benar dan paling baik juga.

Dari penjelasan Mukti Ali diatas, maka kiranya pemaknaan pluralitas seharusnya dijadikan untuk meningkatkan kesadaran egaliter-humanis dalam taraf realitas kehidupan. Ralitas sejarah dalam Islam sepertinya cukup memberikan pemahaman akan pergaulan yang tidak terbatasi oleh segmen-segmen agama selama tidak mendistorsi ajaran substansi agama dan tidak melanggar etika normatif dalam setiap ajaran agama yang ada. Artinya masikupun agama merupakan sebuah sistim nilai (kebenaran) bagi penganutnya yang dengan sendirinya akan mengatasi sistim-sistim nilai lain, tapi bukan berarti ini membuat kita memusuhi (dalam bentuk masif) umat penganut agama lain yang berbeda.

Sikap etis yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW untuk menyatukan visi pluralisme di Madinah, Rasulullah mampu menciptakan suasana kemasyarakatan yang kondusif antara kaum Anshar, Muhajirin dan Yahudi dengan mengakui eksistensi masing-masing kelompok, dan melahirkan “Konstitusi Madinah”. Dan sunnah Rasul ini dilanjutkan oleh Khalifah ke II dalam menghadapi penduduk Yerussalem yang kemudian dikenal dengan Piagam Aelia.

Hubungan Islam dan pluralisme memiliki dasar argumentasi yang kuat. Hal ini berangkat dari semangat humanitas dan spiritualitas Islam. Yang di maksud dengan semangat humanitas adalah Islam merupakan agama kemanusiaan (fitrah) atau dengan kata lain, cita-cita Islam sejalan dengan cita-cita manusia pada umumnya.

Akhir-akhir ini diskursus tentang pulralisme telah melahirkan segmen baru dalam komunitas agama sehingga tak jarang terjadi perdebatan yang sebenarnya hanya bersifat interpretative mengarah kepada klaim kebenaran atas munculnya interpretasi-interpretasi lain, bahkan yang lebih riskannya sering terjadi saling meng-kafir-kan antara satu paham dengan yang lainnya.

Kalaupun setiap orang harus menunjukan sikap religiusitasnya tentang konsep pluralime yang konon kontrafensi tersebut, maka secara pribadi, dengan pemahaman keagamaan yang sempit saya yang lebih cenderung memilih pada posisi “setuju dalam perbedaan”  diantara lima pandangan yang di gambarkan oleh Mukti Ali tersebut diatas. Tetapi akankah hal ini relefan dengan tradisi Islam yang memberlakukan peran para Mujtahid (dalam Islam; orang yang mempunyai kewenangan untuk melakukan interpretasi terhadap teks-teks kitab suci) dengan semua kriteria yang harus di penuhi.

Kultur keagamaan pada nuansa local di Maluku, menampakkan adanya keteraturan kesadaran yang bermunculan setiap momentum keagamaan. Mulai dari Lebaran Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Tahun Baru dan lainnya, selalu bermunculan sikap saling menghormati, bahkan dalam kondisi konflik sekalipun, usaha-uaha untuk meredefenisi peran-peran social umat beragama mengalami peningkatan (boleh dikatakan secara drastis).

Sikap keber-Agama-an seperti ini menunjukan adanya kesadaran pluralitas (keragaman) yang terjadi secara inklusifistik, sehingga secara perlahan akan mereduksi sikap arogansi atau militansi yang berlebihan yang akhirnya melahirkan sikap kontra terhadap nilai-nilai kemanusiaan.